keluargaku…

Aku

Inilah diriku, di depan monitor yang kini telah mati oleh screensaver. Tidak terasa aku melamun lebih dari 10 menit didepan “Mathlab”ku ini. Ku pandangi wajahku yang pas-pasan ini, lewat bayangan kaca monitor SyncMaster 551v merk korea. Hidung yang besar, jenggot tak terawat bak semak belukar, rambut yang baru tumbuh kurang dari 1cm, dengan jidat yang “brocel” dimana-mana. Teringat memori2 masa lalu tentang asal muasal “brocel-brocel” ini. Kepingan masa lalu yang kini entah berapa persen yang tertinggal di memori otakku ini.

Berkelebat bayangan kendaraan merah yang menyerempetku dengan setusuk sate ayam yang baru ku beli dari Mbah Yem tetangga depan rumah waktu pulang sekolah. Seketika lampu2 kuning menyala, aku berada di ruangan serba putih dikelilingi ninja2 berpakaian putih, lengkap dengan senjata ditangannya. Kemudian lampu2 kuning itu memudar ditelan gelap, aku tak sadarkan diri. Itulah serpihan yang masih dapat kusatukan untuk mengenang alis kananku yang kini tidak utuh lagi.

Kemudian teringat juga saat aku bangun tidur siang, waktu itu bapak melarang aku main karena aku baru sembuh dari sakit. Ku dapati aku sedang menunggu giliran bermain kelereng dirumah kosong yang kini sudah berdiri masjid. Aku duduk disebuah sisi pagar besi pipa besar berwarna coklat dengan tembok sebagai penopangnya. Sejurus kemudian, wajahku sudah beradu dengan kerasnya sudut got. Jahit 5 di jidat, itu hadiah tidak taat pada perintah Bapak.

Anganku terbang lagi dikawasan kios kumuh PKL Pekunden Batan Miroto, bermain di pinggir kali mencari “cetol” dan “uget-uget” untuk makanan ikan “siyem”, ikan aduan yang mirip dengan ular kobra. Tiba-tiba, batu seukuran bola pingpong melesat ke kepalaku. Aku menangis sejadi-jadinya. Buram mataku melihat sesosok tubuh bongsor melarikan diri kearah lengkong kecil seberang sungai. Walau buram oleh airmata, aku bisa mengenali sosok itu. Si Gempol!!, dia yang membuat jidatku “menyonyo” dan berdarah. Disudut kiri tengah jidat inilah kini tergores prasasti kejadian itu.

Bapak

Wajah hitam legamnya kini telah terukir indah oleh guratan tegas kehidupan. Kemarin agustus beliau genap berusia 50 tahun. Dulu, sering kali aku bangga melihat fotonya menaiki sepeda kumbang warna biru merk burung naga emas dari taiwan. Beliau mengenakan seragam kebesarannya, warna krem dengan badge bergambar tugu muda dan diatasnya terdapat tulisan huruf kapital yang belum kumengerti saat itu. Didada kirinya terdapat kantong dengan tutup yang bolong. Tutup bolpen hitam menyembul dari lubang itu, diselingi pin emas berbentuk pohon beringin. Sepatu TNI-nya mengkilap, janggut dan rambutnya masih hitam seluruhnya, perutnya pun masih rata. Di belakangnya terpampang foto Presiden Suharto dan Wakilnya yang tidak aku kenal namanya. Gagah sekali bapak!!

Bapak sering bercerita tentang masa mudanya. Dulu sewaktu SD, beliau adalah anak yang cukup pandai bahkan sering mendapat rangking satu di kelasnya. Waktu SMP, beliau juga cukup cerdas. Bahkan temannya yang berada satu peringkat dibawahnya, kini telah menjadi seorang dokter kulit terkenal di temanggung. Namun apa boleh buat, beliau tidak melanjutkan ke SMA karena tiada kesempatan. Itulah mengapa, dia bertekad bahwa anaknya harus dapat berkesempatan mengenyam pendidikan setinggi-tinginya apapun resikonya.

Kini rambut dan jenggot beliau sudah memutih, perutnya pun kini sudah menyembul. Namun beliau masih ulet, bergulat dengan sampah. Tak kurang 6 pasar di kota kami telah tersentuh oleh tangannya yang ringan. Dari pasar Burung Karimata, Pasar “Kobong”, Karang Ayu, Simongan, Pedurungan, sampai yang terakhir sekarang ini Pasar Banget Ayu. Dulu aku sempat dibawanya ke Pasar “Kobong”, waktu kami ingin mereparasi kursi rotan kami yang telah putus semua. Sebuah pasar ayam dimana kandang ayam bertebaran di mana-mana, bau tai ayam menyengat hidung sampai ke dendrit otak, bulu-bulu beterbangan menggelitik hidung. Sungguh hebat bapak tak mengeluh sedikitpun bergelut dengan tai dan bulu2 itu tiap pagi, siang, dan sore hari.

Semua itu demi kami, keluarga, anak dan istrinya. Agar kami bisa tetap bertahan, agar anaknya bisa mengenyam pendidikan. Tiap pagi, beliau berangkat dengan semangat mengendarai alfa merahnya yang kini semakin tebal asapnya. Jog-nya pun kini telah
berlubang dimana-mana.

Ibu

Suaranya selalu merdu, syahdu menggetarkan hati, membuat tentram kapanpun ku mau. Teringat sebuah foto dimana aku menangis dipangkuannya karena kilat yang tiba2 muncul dari kotak hitam di depan kami. Beliau memakai kebaya warna cokelat dengan
sanggul rapih, cantik sekali. Wajah putihnya yang bulat memancarkan cahaya yang tidak bisa aku gambarkan. Aku mengenakan jaket garis2 warna biru merah. Badanku gemuk, tanganku terlihat pendek dan berlipat di pergelangan tangan. Tangan beliau memelukku erat membuatku merasa nyaman.

Beliau memiliki bekas luka panjang di kaki kanannya. Bentuknya seperti tato Kelabang besar di kulit tulang keringnya. Aku masih ingat dengan jelas kejadian luka itu. Waktu itu aku masih kelas 3 SD. Beliau masih berjualan di kawasan PKL Pekunden. Setelah pulang sekolah, aku mampir ke kios Ibu untuk menemani beliau berjualan. Setelah makan siang, beliau ingin mendasarkan dagangannya diatas plafon kios dengan menaiki kursi besi yang dibelinya dari tukang rosok sebelah kios. Sejurus kemudian tiba2 besinya reyot dan salah satu kaki kursi itu terjermbab kesela-sela papan lantai kios. Hal itu membuat keseimbangan beliau goyah, dan terjatuh. Kaki kanannya tergores salah satu ujung kaki kursi besi itu dan beliau harus dilarikan ke RS untuk menerima 27 jahitan.

Jika dihitung-hitung, telah lebih dari delapan belas tahun beliau menekuni kios-nya ini. Dari emperan toko Pak Nadjib, seorang tukang reparasi sepeda di Depok, pindah ke Kawasan PKL Pekunden, kemudian di Kokrosono belakang Rel Kerea Api, lalu pindah ke Kokrosono Depan dekat jembatan Sungai Banjirkanal Barat. Kepindahan Ibu ke Kokrosono depan tepat saat aku akan diterima kuliah di Bandung. Aku ingat benar saat-saat dimana aku membalut kiosnya dengan Seng2 bekas agar tidak bocor oleh hujan. Membeli kayu “reng” dan mengangkutnya dengan alfa merah beliau untuk membuat “cantolan” pakaian. Alhamdulillah.. dengan kiosnya itu, Ibu dapat meringankan beban bapak dalam menyediakan bekal-ku semasa kuliah 3.5 tahun di Bandung.

Subhanallah, betapa maha adil Engkau. Teringat wajah Ibu dengan penuh kepastian berucap: “Le, kowe kudu kuliah ing Bandung…rak sah mikir biaya…Insya’Allah…Bapak lan Ibu Sanggup!” Waktu aku hendak berangkat ke Bandung, aku ingat menangis tersedu-sedu, melihat slip gaji bapak..dan bertanya kepada Bapak: ” Pak, pripun niki..??” Bapak hanya menjawabnya dengan senyuman.

Adikku

Sebenarnya aku memiliki dua orang adik. Adikku yang pertama lahir waktu aku kelas 6 SD awal. Namun karena gangguan pernapasan, dia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa selang 3 hari setelah kelahirannya. Teringat jelas wajah Ibu yang sedu sedan kehilangan buah hatinya. Hari itu, sungguh aku membenci Bidan yang membantu Ibu melahirkan waktu itu. Aku juga sempat mempertanyakan keadilan-Mu. Mengapa Engkau membuat Ibu menangis?? Bayangan becak yang mengangkut jasad adikku diikuti tetangga2 yang mengantar masih terbayang jelas. Adalah om Dilan, adik kandung Ibu yang memangku jasad adikku diatas becak. Satu hal yang aku sesali sampai sekarang…mengapa aku tidak ikut menghantarkan jasad adikku waktu itu, dan mengapa aku Mempertanyakan keadilan-Mu waktu itu.

Selang setahun kemudian, kabar baik pun tiba, aku akan memiliki seorang adik. Ibu melahirkan adikku yang kedua di maret 2007. Dia sunggu lucu, hidungnya yang mungil terlihat mancung dan bengkok. Dia sehat, dengan berat badan 3.3 kilo. Tangisnya begitu membahana, aku yakin dia akan menjadi seseorang yang hebat nanti. Aku ingat kali pertama aku menggendongnya dengan tanganku. Sungguh, senang, haru, campur bahagia.

Adikku ini sungguh lincah dan bandel. Di kedua betis kakinya terdapat tato kurva lonjong tak beraturan berwarna hitam belang . Tato ini dia dapat dari Honda Astrea Supra hijau yang diparkir didepan Rumah Pak Tino, tetangga rumah yang terletak di sebelah rumah Pak Baroto di ujung Kompleks. Aku ingat saat dia pulang rumah dengan terdiam membisu tak ada kata. Sambil menyembunyikan tangan kirinya, dia masuk ke kamar dan mulai menangis tersedu. Aku pun menyusulnya ke kamar dan melihat keadaannya. Terlihat tangan kirinya bengkok di sendinya. Aku langsung menjerit memanggil ibu, sejurus kemudian kami telah berada di tempat seorang dukun pijat di kawasan Parang Kusumo. Ternyata, engsel siku kirinya “mlengse” waktu dia jatuh saat bermain tarzan2 an di pohon pojok lapangan voli. Alhamdulillah tangannya dapat sembuh dengan baik setelah seminggu beristirahat. Belum cukup itu… sekitar 2 minggu setelah kesembuhan tangan kirinya, kami terpaksa kembali ke dukun tersebut untuk membenarkan tangan kanannya yang lepas sendi karena jatuh dari poskamling depan gang, saat berakting sebagai power ranger merah idolanya itu.

Kini dia berumur 10 tahun, duduk di kelas 5 SD. Semoga kelak dia bisa berbuat sesuatu bagi bangsa ini.

Hiks jd kangen ma mereka semua… >.<

Share

About this entry