Rumahku yang dulu…

Kata Bapakku, aku dulu lahir dikasur. Ibuku-pun juga bercerita sama. Kata mereka aku ini bandel, belum lahir saja sudah menendang-nendang perut ibuku sampai kesakitan. Aku dulu sempat malu dengan teman2 yang dulu memiliki kesempatan lahir dirumah sakit. Namun setelah mendengar penjelasan Bapak dan Ibu, aku menjadi berbesar hati. Bagaimana tidak, mereka boleh bangga berkesempatan lahir di rumah sakit dengan segala fasilitasnya yang baik. Ditempat tidur yang putih bersih, dibantu dengan Bidan dan suster yang ahli dibidangnya. Sedangkan aku, hanya lahir dikasur kumal yang sudah sebulan tidak dijemur. Kapasnya telah bantat oleh lembab air terocoh, maklum waktu itu bulan januari yang kata orang hujan sehari-hari. Walau begitu aku cukup hangat dalam balutan jarik yang tidak jadi terjual untuk biaya kelahiranku, karena waktu itu ada seseorang yang sangat berbaik hati membantu Bapak Ibu. Dan yang paling penting, kasur itu telah menjadi bagian hidupku. Setia menemani kelahiranku dan waktu-waktu ku beranjak balita sampai SD kelas 2. Kasur itu tidak pernah berpaling kepada jabang bayi yang lain… hanya aku. Coba bandingkan dengan tempat tidur rumah sakit yang putih bersih itu, sudah berapa jabang bayi yang lahir di atasnya?? Kasurku Cukup Hebat bukan!!

RUmahku waktu itu tidak lain dan tidak bukan, adalah istana kecil yang terbuat dari papan bekas dan seng dengan genteng tanah kusam sebagai atapnya. Terletak di belakang rumah Pak De, tepatnya di belakang jambannya. Seingatku ada tiga ruang di dalamnya: Jamban, Kamar tidur sekaligus ruang makan, dan dapur. Ketiga ruangan itu berderet membentuk setengah bangunan trapesium, dengan tanah sebagai lantainya. Ada yang unik dengan rumahku ini, ruang bagian dalam seperti ruang setengah bawah tanah. Ibu harus menaiki beberapa anak tangga untuk keluar halaman rumah yang tersita dengan tali tambang dan kabel bekas yang digunakan untuk menjemur pakaian. Tali dan kabel penjemur itu, salah satu sisinya diikat dengan kayu penopang rumah Pak De. Sedangkan sisi lainnya terikat pada kerekan timba yang terletak diatas sumur yang berbentuk tabung lingkaran berwarna hijau oleh lumut di sisi luar dan dalamnya. Jika musim kemarau tiba, halaman rumahku itu tampak semarak oleh jemuran, kasur, bantal, dan guling. Aku sering kali berlagak seperti tentara jika waktu pulang sekolah tiba. Bak Rambo yang berada di tengah medan perang, aku dengan hati2 melangkahkan kaki untuk memasuki halaman rumah. Ku bayangkan tali jemuran yang penuh dengan
pakaian itu sebagai kawat berduri yang harus dihindari. Sedangkan bantal, guling kubayangkan sebagai ranjau darat yang siap meledak jika terinjak. Sedangkan kasur.. kujadikan tempat terakhir untuk berjungkir, tak peduli apakah aku berhasil melewati semua ranjau itu, atau aku meledakkan salah satunya. Tak jarang dengan aksi jungkir balikku itu, semua jemuran itu kocar-kacir tidak keruan.

Listrik dirumahku pun sering mati-padam. Tak jarang aku belajar dibawah redupnya “teplok” untuk persiapan mencongak di sekolah esok harinya. Meja belajarku tidak lain dan tidak bukan adalah meja makanku. Tidak heran jika beberapa lembaran di buku-buku sekolahku menjadi transparan. Entah tertumpah minyak tanah dari teplok, atau tertular gorengan lauk yang bergumul rukun diatas meja itu. Jika esok hari tiba, Ibu telah mempersiapkan nasi telor ceplok kesenanganku. Setelah mandi, ibu-pun mengambilkan seragam dari lemari pakaian. Lemari pakaian itu tiada duanya, berbentuk seperti tenda segi empat dengan resleting sebagai pintunya. Tak ubahnya tenda yang lain, lemariku ini memiliki jendela yang terbuat dari jaring. Namun sayang, pintu kirinya telah menganga. Resletingnya masih menutup kencang, tapi kain penutup pintu itu telah sobek dimana-mana. Bapak telah berusaha untuk menambalnya dengan selotip. Nampaknya usaha itu sia-sia belaka, karena setelah satu sobekan selesai diselotip maka sobekan lain pun muncul oleh desakan pakaian yang kelebihan beban.

Di depan rumah kami, atau lebih tepatnya samping rumah Pak De, adalah rumah Bu Kaji. Di belakangnya tumbuh pohon jambu klutuk yang isinya berwarna merah. Manis rasanya, tapi hati-hati dengan buah jambu ranum yang kulitnya berwarna kuning tua. Pernah aku nekat memakannya, ternyata manis rasanya. Tetapi di sela-sela manis itu, lidah ini terasa ada yang menggelitik. Seketika ku muntahkan kunyahanku itu, dan kulihat warna merah jambu itu bercampur dengan bintik-bintik kuning yang menggeliat lucu. Ternyata begini rasa ulat itu!!

Tahun 1992, banjir bandang melanda kampungku waktu itu. Sungai Banjir Kanal Barat meluapkan isinya. Rupanya tanggul sungai yang tinggi tidak cukup untuk menahan volumenya. Kampungku berada dibawah tanggul, dan parahnya lagi rumahku seperti basement saja. Jika dilihat lurus dengan permukaan jalan, lantai rumahku nampak seperti “blumbangan” setengah trapesium yang siap menampung air setinggi 0.5 meter. Akhirnya, terendamlah rumahku oleh lumpur sungai Banjir Kanal Barat. Seingatku, beberapa bulan setelah banjir bandang itu kami pindah ke rumah yang baru.

Share

About this entry