Rumahku sekarang…
Alhamdulillah tahun 1993 Kami resmi pindah. Rumah baruku terletak di kawasan perumahan pinggir kota. Aku teringat waktu dulu diajak Bapak dan Ibu untuk menilik rumah ini. Dengan mengendarai honda GL 100 merah 1981, kami bertiga melewati jalan Supriyadi yang dulu belum teraspal. Melewati jalan ini sungguh bagai mengarungi samudera dengan perahu kecil. Laju GL 100 kami di jalan bergelombang itu, bagaikan perahu yang menentang badai. Sekali waktu kubangan air cokelat harus kami terjang karena kubangan itu merata di seluruh permukaan jalan. Apalagi jika hari hujan, tak jarang honda kami mogok, ngambek minta dibersihkan.
Rumah baruku itu bertipe 21. Bangunan aslinya kecil saja, terdiri dari 2 ruangan. Sama seperti rumah lamaku: ruangan yang paling besar kami gunakan untuk kamar tidur, ruang tamu sekaligus garasi. Sedangkan ruangan lain yang relatif lebih sempit terbagi menjadi dua bagian: dapur dan jamban. Aku cukup bangga dengan rumah baruku. Dindingnya terbuat dari batako dan semen, lantainya-pun semen…bukan lagi tanah. Atapnya tinggi, terbuat dari asbes. Di depannya terdapat halaman berbentuk segi empat dengan lebar 6 meter dan panjang 3 meter. Bukan hanya itu saja, di belakang rumah juga terdapat halaman yang lebih luas lagi.
Sebagian tanahnya telah diplester semen dan ditengahnya berdiri gagah pompa air manual berwarna hijau semu cokelat oleh karat. Di sebelah pompa air itu tumbuh sebuah pohon melanding yang akarnya menjalar kemana-mana. Bahkan plesteran semen-pun kalah dan retak dibuatnya. Melanding adalah tanaman polong-polongan, buahnya mirip Pete yang terminiaturisasi. Saat dia berbunga, tanaman itu akan terlihat sangat indah. Bunganya berbentuk bola berwarna kuning dengan tangkai hijau mungil. Bola itu terbentuk dari ribuan rambut benang sari halus yang tumbuh dari inti putiknya. Daunnya-pun juga sering kugunakan untuk bermain jago-jagoan bersama teman-teman. Untuk memainkannya, biasanya kami memilih dahan daun yang agak pendek, namun cukup besar. Kemudian kami lepas tangkai daun yang ada dari pangkal sampai tersisa dua tangkai diujungnya. Tidak lupa kami rontokkan daun di kedua tangkai tearkhir itu. Kemudian kami simpulkan kedua tangkai tersebut, maka jadilah jagoan kami masing2. Untuk memainkannya, kami harus saling memasukkan pangkal dahan ke masing-masing lubang yang terbentuk dari simpul tangkai tadi. Setelah menyatu, maka dengan serentak kami menarik jagoan kami masing2. Kemenangan akan diraih oleh jago yang simpulnya masih utuh setelah tarik-menarik terjadi.
Hari-hari pertama dirumah baruku ini kulalui dengan gelisah. Bukan karena nyamuk-nya yang banyak dan ganas. Atau karena kompleks kami masih sepi. Waktu itu bapak pernah bercerita, bahwa kami adalah penghuni ke tiga di-kompleks ini, setelah Mbah Yo dan Pak Karman. Aku hanya merasa terasing ditempat baru ini. Tapi setelah selang beberapa bulan hadirlah Doni, Defra, Sara1, Sara2, Dini (bkn nama sebenarnya) dan teman2 yang lain. Kami-pun cepat akrab, pulang sekolah selalu kami habiskan untuk bermain petak umpet, engklek, atau tong rembet. Mereka juga yang setia menjadi rivalku bermain jago-jagoan, dan bermain “pasaran”. Aku tidak tahu persis kapan bapak membangun rumah kami ini. Serpihan kenangan yang masih kuingat adalah Kakek dan dua orang Om ku diundang untuk membantu pembangunan rumah kami. Aku masih ingat benar bahwa waktu itu adalah bulan ramadhan. Aku juga teringat saat-saat pertama aku dan bapak mengangkut padas dari depan kampung ke rumah untuk meninggikan pondasi. Aku menggunakan dua buah ember jinjing, tentunya kedua ember itu tidak terisi penuh oleh padas. Jarak antara depan kampung ke rumah kami sekitar 50 meter. Sedangkan bapak mengangkut padas dengan meminjam gerobak besi kecil dari tetangga. Sungguh baru kali itu kami kompak dalam melakukan olah raga.. ^_^
Kini rumah ku cukup asri, di depannya telah tergelar paving berbentuk kotak-kotak yang tersusun rapi oleh tangan bapak. Di sebelah kanan rumah terdapat beberapa pot tanaman milik Ibu. Setiap berangkat dan pulang kerja, Ibu tidak pernah lupa menyirami mereka. Sebagian halaman kami juga diwarnai oleh keramik sederhana berwarna merah. Sedangkan ruangan yang dulu menjadi tempat tidur sekaligus ruang serba guna, kini kami gunakan untuk ruang tamu dan garasi. Lantainya kini telah terbalut keramik berwarna merah putih. Keramik merahnya sengaja kami bentuk seperti karpet dengan sembulan kotak di tiap ujungnya, kemudian keramik putih membungkus setiap sisi karpet merah tersebut hingga tembok. Melangkah ke ruang sebelahnya, kamar mandi telah dijebol dan disulap menjadi ruang keluarga tempat kami bercengkerama melepas rindu dan tawa. Di ruang keluarga ini terdapat Televisi Samsung 21 inchi, VCD aiwa, lemari hias yang isinya penuh dengan mainan adik yang berserakan. Lebih kedalam, halaman belakang rumah kini telah menjadi ruang Kubus panjang dengan atap kopong berbentuk prisma segitiga sama kaki. Ruang kubus panjang ini terbagi menjadi dua bagian sama besar. Bagian pertama kami sekat menjadi dua ruang: ruang Makan Serba Guna yang luasnya paling besar, dan Dapur di belakangnya. Sedangkan bagian kedua kami sekat menjadi 4 ruang: 2 ruang kamar, dan 2 kamar mandi.
Ada suatu keajaiban dirumahku ini, ketika hujan tiba kamarku yang terletak dibawah “talang” penampung air hujan, selalu menjelma menjadi tawang mangu kecil yang sungguh indah. Begitu indahnya hingga berapa kalipun kami berusaha memperbaiki talang itu, tawang mangu itu tidak mau beranjak sedikitpun dari tempatnya. Mau tidak mau, jika hujan deras tiba, kamarku-pun menjelma menjadi daerah aliran sungai yang deras. Segala jenis gombal akan dikerahkan untuk menahan derasnya aliran sungai dadakan itu. Baik gombal dari “CD”, sobekan handuk, Kaos partai berlambang beringin, sampai seragam SD turut berjasa dalam meredam keajaiban kecil itu. Home Sweet Home…!!
About this entry
You’re currently reading “ Rumahku sekarang… ,” an entry on pram
- Published:
- 2.4.08 / 12pm
- Category:
- life



2 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]