Terenyuh

Salam.

Berikut sepenggal tulisan untuk sekedar berbagi cerita.

Minggu, 7 Desember 2008 (sore)

Warna kuning langit berbaur dengan abu mendung, dan senja tlah bernaung diatas mendung dan rintik2 hujan sore itu. Perlahan-lahan suara Takbir dan Tahmid selang seling bersahut. Subhanallah… Idul Adha telah tiba! Tak sadar, aku pun larut meluruh dalam renung… menuju sebuah petak rumah sederhana, dimana aku tumbuh dan menerima kasih sayang.

Satu kata yang dapat menggambarkan suasana hatiku saat itu : Terenyuh.

Mengenang semua kenangan yang tlah terajah di hati mengalir dalam darah, dan di hari itu aku sendiri lemah lunglai.. mencoba abai dengan suasana hati.

Senin, 8 Desember 2008 (pagi)

Suara Handphone berbunyi nyaring.. kriing.. kriing… Dengan setengah malas ku angkat panggilan itu. Si Qirun membangunkanku (sesaat berkelebat scene tadi malam: “besok pagi bangunin ya Run..”). Ku jawab suara diujung sana:… Iya…. iya!!. Beranjak lah aku pergi mandi dan berganti pakaian untuk segera menunaikan sholat Ied di Masjid Mujahidin.

Pukul 07.15 kami berangkat (Pak Gozal, Qirun, saya dan tiga teman kos lainnya) ber”Avanza” ria menuju Masjid. Spontan kami temukan tempat parkir yang potensial dan belum termanfaatkan. Kontan Pak Gozal memarkirkan avanza di tempat tersebut. Tak terpikirkan bahwa tempat tersebut nantinya digunakan untuk gerbang keluar massa dari dalam masjid setelah selesai sholat Ied. Kontan setelah sholat, dengan wajah tak berdosa Avanza itu “nongkrong” di depan pagar yang kini sudah terbuka dan penuh sesak oleh massa.

Sholat Ied waktu itu berlangsung sangat khusyu’, sehingga sempat membiusku terbang ke alam bawah sadar (baca: tidur). Namun tetap ku perjuangkan untuk menyimak khotbah Ied yang disampaikan untuk memenuhi rukun shalat.

Setelah kerumunan massa mulai memudar, mulailah kami memasuki Avanza hitam Pak Gozal untuk menuju ke seorang rumah teman beliau di daerah sungai jawi. Di situ ada satu ucapan pak Gozal yang sempat saya catat dan garis bawahi dalam hati: “Nah kalau seperti ini kan terasa lebarannya, walaupun bertamu ke tempat yang bukan saudara” -waktu itu aku merasa terenyuh untuk kedua kalinya-

Kami pun pulang ke kosan, diringi rintik hujan yang berangsur mengguyur dengan lebat. Tanpa lupa acara penyembelihan hewan kurban hari itu, saya sempatkan rebahan untuk meregangkan otot punggung. Hujan semakin lebat, dinginnya membuai tubuh untuk melunglai ke mimpi. Terbangunlah aku pukul 11.50 siang.

Setelah sholat dan merapikan kamar, saya mencoba membangunkan si Qirun. Hujan masih lebat waktu itu, namun ku tetapkan hati untuk mengayuh sepeda onthelku dengan membawa payung dan tak lupa D80ku. Dengan sedikit kebodohanku, berhasilah aku mencapai kantor setela  bolak-balik kos untuk mengambil kunci laci tempat menyimpan kupon Shohibul qurban. Amanah yang harus disampaikan.

Ku ajak Pak John berboncengan denganku, dia membonceng dengan membawa payung, aku didepan mengayuh sepeda. Sungguh Mesranya suasana waktu itu, tetapi apa boleh dikata, seandainya bukan Pak John yang membonceng dibelakang dan membawa payung itu (…hehehe you know what I mean..)

Dan sampailah kita di tempat penyembelihan, tempat kita berbagi sedikit rezeki yang dikaruniakan-Nya kepada sesama.

Syahdan… Penyembelihan-pun telah selesai dan kami bagikan kepada yang berhak. Puas rasanya.

Wassalamu’alaikum.

Share/Save/Bookmark


About this entry