Benarkah Bisnis Telekomunikasi Memasuki Masa Senja?

Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca sebuah berita yang menyatakan bahwa Industri Telekomunikasi adalah bisnis yang memasuki masa senja. Hal ini terlihat dari penurunan revenue beberapa Operator/Vendor  Telekomunikasi di Indonesia dan Dunia, bahkan sampai melakukan rasionalisasi karyawan baik dalam bentuk Merger, PHK, PENDI, Outsource dll. Rasionalisasi karyawan merupakan usaha untuk melakukan pemangkasan Human Resource Cost yang besarnya berbanding lurus dengan waktu. Apakah benar seperti itu? Padahal jumlah pelanggan operator di Indonesia telah mencapai 250 juta! Kok bisa.. padahal  total penduduk indonesia hanya 240 juta? dengan kata lain penetrasi telekomunikasi di Indonesia telah mencapai 110% [1].  Haduuh.. makin tambah bingung euy.. jangan khawatir, angka ini akan terus berlipat dua setiap dua tahunnya..(moore’s law) :D  Ironis bukan? Disaat layanan Telekomunikasi sedang laris manis, para operator malah menderita krisis. Ada apakah gerangan?

Scissor Effect

Kalau orang-orang pinter menyebutnya scissor effect. Kalau saya menyebutnya taktik dagang ala china yang diparaktikan dengan salah kaprah! Untuk lebih gamblangnya berikut saya tempelkan grafik dari whitepaper-nya Ericsson[2]

Traffic = User x Traffic/User [2]

Revenue = User x Revenue/User [2]

Ada yang salah dengan grafik diatas? Bentuknya seperti gunting… yang menggunting pendapatan operator telekomunikasi, hehehe..  Taktik pemasaran di Indonesia sering mengadopsi prinsip dagang China: Jual dengan harga murah, sehingga produk dapat terjual dengan mudah… dan keuntungan akan mengalir bagai air bah. Tidak ada yang salah dengan hal ini, jika kita jualan buah, kerupuk, kecap atauconsumer goods lainnya.

Sedangkan Operator Telekomunikasi itu sebenarnya mirip dengan Sopir Bus yang menjual jasa. Jika di Bus diberlakukan tiket langganan unlimited sebulan 50 ribu rupiah, dan setiap penumpang bebas memakai jasa bus tersebut untuk pergi kemana saja kapan saja dengan membawa barang bawaan yang tak terbatas dalam rentang waktu sebulan. Ya Gempor tu Sopir+Busnya! Padahal Bus tersebut perlu biaya operasional dan perawatan yang tidak murah untuk menjaga kualitas mesin, ban dan interior Bus, supaya penumpang nyaman melakukan perjalanan. Dan hasilnya… untung tidak didapat, buntung iya… Bayangkan kita berada di sebuah bus yang hanya berisi 10 orang, yang 9 orang hanya membawa diri+pakaian karena berangkat kerja, dan orang kelima membawa 5 Bal baju hasil kulakan dari pasar tanah abang+ 2 Keranjang besar Ikan Tuna dari pelabuhan. Padahal kapasitas Bus seharusnya dapat terisi 25 orang. Wal hasil Bus tersebut akan berjalan sangat lamban (lemoto..! :p) dan penumpang akan merasa tidak nyaman karena Bus yang terasa penuh, sumpek, sumuk dan bau Ikan! Bahkan tak jarang, bus mogok atau ban kempes karena kelebihan beban dan 9 orang tadi jadi telat masuk kerja..connection error!! Hahaha

Dan lebih parahnya lagi.. keeseokan harinya 9 orang tersebut beralih naik becak, alon-alon asal kelakon. :D

Hal yang berbeda akan terjadi bila diterapkan konsep pricing “value based model[2] *sekali-kali pakai bahasa orang pinter* :D Bayangkan sebuah Perusahaan Bus yang memiliki 3 buah Bus dengan spesifikasi masing-masing. Bus pertama adalah Bus Patas yang menjamin kenyamanan, kecepatan dan ketepatan waktu perjalanan. Bus kedua adalah bus khusus Paket Barang yang menjamin ketepatan waktu, namun paket barang besar dan kecil dijadikan satu, kerusakan paket karena tergencet-gencet tidak dijamin. Bus ketiga adalah Bus umum yang mengangkut penumpang dari halte satu ke halte lain, ketepatan waktu tidak bisa diharapkan. Tentunya harga tiket langganan bus 1 menjadi paling mahal dibanding yang lainnya karena kenyamanan, kecepatan dan ketepatan waktunya. Sedangkan harga tiket langganan untuk bus 3 menjadi yang paling murah karena ketepatan waktu yang tidak bisa diharapkan. Saya yakin dengan melakukan pricing seperti perusahaan Bus diparagraf  ini, maka niscaya bisnis telekomunikasi akan kembali ke masa jayanya.. :D Berikut grafik scissor effect yg sudah ter-koreksi.. terlihat bahwa revenue bergerak berbanding lurus dengan traffic.

Value based pricing layanan telekomunikasi dapat di lakukan berdasarkan kecepatan, kualitas, kapasitas, luas coveragebrandentertainment, video, bundling handheld, layanan, yang semuanya bermuara pada user experience (pengalaman pelanggan)[2].

Internet of Things

Mari bicara bisnis telekomunikasi 10 tahun mendatang, disaat teledensitas user sudah mencapai titik jenuh, broadband access internet sudah terjangkau dimana-mana sampai ke pelosok desa. Jumlah pelanggan sudah mentok, yang otomatis pendapatan juga akan menjadi mentok. Sementara cost semakin lama semakin menggelembung dimana-mana.. Apakah ini yang disebut senja kala telekomunikasi itu?

Wait.. bukankah senja itu saat-saat yang indah? Turis-turis dari berbagai pelosok dunia rela merogoh koceknya untuk dapat melihat senja di pantai kuta dengan sunset-nya. :D Sehabis senja terbitlah malam yang indah, dan langit mulai bertabur bulan dan bintang-bintang. Dan untuk para pekerja.. bukankah senja adalah waktu yang ditunggu-tunggu setelah seharian bekerja, untuk dapat bercengkrama bersama keluarga?

Ternyata Senja kala Telekomunikasi akan berubah menjadi malam yang indah. Malam yang riuh ramai dan semarak, bukan malam yang gelap dan sepi.

Perumpamaan diatas hanya menggambarkan bahwa Industri Telekomunikasi akan berkembang beyond human expectation. Dimana bukan hanya manusia yang dapat berkomunikasi, segala bentuk benda yang kita miliki nantinya dapat berkomunikasi satu sama lain seperti halnya manusia. Tumbuhan, Hewan, bahkan Gunung dapat melakukan update status!!. Terbayang berapa potensi pelanggan dan pendapatan yang akan didapatkan oleh Bisnis Telekomunikasi? No Limit!

The Internet of Things refers to uniquely identifiable objects (things) and their virtual representations in an Internet-like structure[3], terjemahan bebas versi saya: Sekumpulan Benda (hidup/tak hidup)  yang terhubung, berkomunikasi dan eksis di internet. Jadi narsis dan eksis lah anda sekarang.. karena boleh jadi besok anda sudah kalah eksis sama kucing tetangga… :D

Ericsson percaya bahwa di era Networked Society, terdapat 50 miliar benda terhubung ke internet agar kehidupan dan bisnis manusia dapat dilakukan dengan lebih efisien dan enjoyable. Selain Ericsson yang mengembangkan Social Web of Things-nya, IBM berinisiatif membuat program smarter planet yang menyediakan teknologi smart gridswater management , solusi untuk masalah traffic congestion , greener buildings, dll.

Hewlett Packard mencoba untuk membuat CeNSECentral Nervous System of the Earth. Ide-nya adalah dengan menempatkan sensor sebanyak mungkin dimana saja, sehingga sensor-sensor tersebut dapat mengirimkan sinyal berkecapatan cahaya kepada manusia tentang keadaan alam atau bencana. Salah satu aplikasinya adalah sistem peringatan dini terhadap bencana alam. Jika terjadi gempa dengan epicentrum berjarak 20 mil, maka manusia sudah mendapat peringatan 10 detik sebelum terjadinya getaran gempa. 10 Detik adalah waktu yang sangat berharga untuk berlari ke tempat aman seperti lapangan atau tempat tinggi yg bebas dari bahaya.

Kesimpulan

Industri telekomunikasi mobile broadband khsususnya sedang dan akan mengalami 3 fase pertumbuhan:

Uptake and growth

Fase penetrasi dan akuisisi pelanggan untuk mendapatkan pertumbuhan jumlah pengguna yang signifikan. Ini adalah masa-masa awal dimana operator menggunakan skema paket harga yang simple guna menarik hati pelanggan. Fase ini menjadi malapetaka saat para Operator terlanjur memberikan paket harga yang murah (cenderung obral harga) sehingga perang tarif meraja lela, khususnya di Indonesia. Operator kini berdarah-darah saling banting harga, sehingga revenue yang didapat tidak sebanding dengan kenaikan trafik yang dihandleNetwork semakin penuh, tapi kantong semakin kosong.. hehehe

- Differentiating Services

Fase ini ditandai dengan peningkatan segmentasi user berdasarkan experience layanan yang ditawarkan. Value based pricing menjadi ciri khas utama. Tujuan utama dari fase ini adalah mengatasi kejenuhan pasar karena penetrasi PC dan Handheld/Smartphone yang sudah jenuh. Bisnis Telekomunikasi sudah mulai memasuki ranah Machine 2 Machine. Masih sedikit pasar yang mengarah ke fase ini.

- Connecting Everything

Fase ini akan menjadi tren dimasa datang yang ditandai dengan pesatnya revolusi internet enabled device pada hampir semua benda yang kita gunakan sehari-hari: Smart Home ApplianceSmart Remote MontoringSmart Building, Smart Car, Smart Plant,etc., yang semua terkoneksi menjadi Internet of Things/Smart World.

*Untuk lebih melengkapi artikel ini, berikut sebuah video dari Ericsson yang telah berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri saat melihatnya.. :)

[youtube=http://youtu.be/i5AuzQXBsG4&w=480&h=360&rel=0&showsearch=1&fmt=18]

Share

About this entry